TERLAMBAT

 di tulis tgl:Dec 31, ’01 1:01 AM

Akhirnya, bisa juga aku mulai membeli rumah lagi, pikirku..uhh girangnya hati ini, sudah terbayang di benakku saat natal nanti aku bisa menyampaikan berita gembira ini buat ibuku, kejutan buatnya sekalian menebus rasa bersalahku karena gagal memiliki rumah 2 tahun yang lalu, sementara ibuku yang sudah mulai sakit-sakitan itu begitu berharap bisa datang ke kota tempat tinggalku dan merancang rumahku,

“ Nanti ruang tamunya di buat terbuka atapnya ya, biar ventilasinya bagus…” itu sepotong ungkapan yang pernah terlontar darinya yang punya makna yang dalam buatku, hal itu dia ucapkan saat aku cuti beberapa tahun lalu.

Bayang bayang kegembiraan diwajah ibuku semakin jelas melintas, ah…nanti aja, saat malam natal aku kabari dia..bikin kejutan, karena aku ingin dia tahu bahwa rumah ini ku beli buatnya.

Sekarang aku musti menjemput adikku, ajak dia belanja, mungkin dia ingin membelikan sesuatu untuk ibuku juga, karena kami mungkin tidak bisa pulang natalan di jakarta bersamanya. Aku sempat mengabari kakakku tentang rumah yang ku beli, dan ku minta dia tidak menyampaikan dulu kepada ibuku,

“ mau buat kejutan” kataku di telefon.

Ku temui adikku di tempat kostnya, lalu kami berkeliling kota mencari-cari apa yang bisa kami beli buat ibu, karena kebetulan aku baru saja terima THR, namun karena hari itu waktu kami pendek, kami putuskan untuk bertemu lagi besok sore untuk melanjutkan pencarian kami.

Keesokan harinya, sepulang kerja, aku dan adikku berkeliling lagi, sampai saat tiba di toko sepatu dan tas, melintas dipikiranku untuk membeli sepatu untukku sendiri, sepatu warna hitam dof, tidak mengkilat, aku dilanda kesibukan mencari sepatu seperti itu, beberapa toko sepatu ku masuki dan setiap kali aku kecewa karena tak satupun sesuai keinginan ku…weird…tiba-tiba koq ingin sepatu hitam…, akhirnya aku kembali ke misi semula, ku tanyakan adikku apakah sudah berhasil membeli sesuatu untuk ibu, ternyata diapun dilanda kebingungan yang sama, akhirnya kami putuskan untuk menunda belanja kami ke hari berikutnya, tapi aku sempat buat janji dengan dia, malam ini aku akan menjemputnya dan sama-sama ke wartel untuk menelfon ibu, ok deal…jam 10 malam aku janji, kami berpisah setelah itu.

Hari sudah sore saat seorang teman menelfonku minta bantuan untuk mengantarkan beberapa dokumen ke rumahnya..okelah, masih ada waktu pikirku, oh ya malam ini ada rapat acara jazz, aku harus datang juga, cukuplah waktuku untuk mengantar dokumen lalu melanjutkan dengan rapat dan jumpa adikku.

Selepas mengantar dokumen, hari sudah cukup malam sekitar jam 9 an, hpku berdering, ..hmmm kakakku di jakarta, ku terima..

“ Kamu sedang dimana?” suaranya terputus putus

“ di perjalanan menuju ke kota, ada apa?” sergah ku mendesak

” Ibu di bawa ke rumah sakit, aku sedang…” telefon terputus, ku coba hubungi kembali tapi tidak ada nada sambung, kulihat penunjuk sinyal, tidak ada sinyal, yah memang aku berada di lokasi yang terkenal buruk penerimaan sinyalnya. Aku minta supir taksi yang ku tumpangi mempercepat lajunya, sambil mencari wartel terdekat. Saat itu waktu hampir menunjukan pukul 10 malam, sedangkan sepanjang jalan yang ku lewati tidak ada wartel, sampai akhirnya beberapa belas menit kemudian aku tiba di dekat hotel tempat aku rapat nampak satu wartel, aku berhenti dan berlari menuju wartel tersebut, untung ngga antri, aku segera masuk ke satu bilik dengan perasaan hati yang was-was

Ku hubungi hp kakakku, …tidak bisa, tidak ada nada sambung, ku ulangi sekali lagi……gagal, sekali lagi….nihil…., sampai sekitar 10 menit aku coba, tidak juga berhasil, perasaanku makin tidak tenang, ku lihat jam di dinding wartel, 10.15, aku jadi gelisah, aku masuk lagi ke salah satu bilik dan mencoba lagi menghubungi kakakku, ….sama saja hasilnya Hpku berdering..aku berharap dari kakakku

“ Why, sudah pada kumpul nih, cepet ya…!” temanku menghubungi dari tempat rapat, hhmmh… eh iya aku baru ingat bahwa ada rapat, aku bergegas kembali ke taksi dan menuju hotel tapi perasaanku makin ngga tenang

Setibanya di hotel, aku langsung menuju tempat rapat, tapi hatiku masih tidak tenang memikirkan ibu dan telefon kakakku tadi.Aku langsung bergabung karena rapat sudah dimulai, seperti biasa aku tetap mengeluarkan buku catatanku, tapi jujur…aku belum bisa konsentrasi, belum bisa mengikuti jalannya pembicaraan rapat saat itu, belum sampai 5 menit aku duduk, hpku berdering lagi, kakakku!….aku langsung berdiri dan menjauh dari keramaian pertemuan itu, dan mendengarkan suara kakakku bicara…

“ Ya, bagaimana?” tanyaku mendesak lagi

“ Kamu sedang dimana?” suara kakakku agak kaku

” di tempat rapat, tadi aku telfon, tapi ngga masuk-masuk..ada apa dengan ibu?!!” aku ngga sabaran

” Kamu sendirian, adik kamu dimana?” tanya kakakku lagi seolah sedang mengulur pembicaraan

” Aku nanti ketemu dia, ada apa…?” uuuhh, aku kesel

” ……….Kamu tenang ya, kamu yang sabar, kuatkan diri kamu ya…”

‘ tek’,

aku langsung berpikiran lain, mendadak terasa panas dimataku, tapi ku tahan, ku coba bertahan menunggu selesai kata-kata kakakku…aku tau..aku tau apa yang akan di katakannya, aku merasakan kaki ku lemas, tapi ku coba bertahan berdiri…aku diam tidak mendesaknya lagi, perasaanku makin tidak karuan

” Kamu harus kuat ya…Ibu kita sudah ngga ada, beberapa menit yang lalu,..kamu….“ aku sudah tidak menyimak lagi kata-kata kakakku tapi tanganku masih tetap memegang hp di telingaku, saat itu pandanganku kosong, aku tidak tahu apa yang harus ku pandang, apa yang harus ku pikirkan, aku cuma berdiri kaku…beberapa saat, aku coba menyimak lagi pembicaraan di telefon karena kakakku mulai memanggilku khawatir….

„ Kamu ngga apa-apa?“ nadanya khawatir

“Hhh…iya” jawabku, detik itu pikiranku langsung tertuju ke adikku, ada perasaan yang menggeliat tidak tenang saat ku ingat adikku…dan pikiran itu melintas begitu cepat, aku harus memberitahu adikku, mendadak aku teringat betapa bersemangatnya dia saat tadi sore kami janjian ke wartel sama-sama untuk menelfon ibu, betapa sesaknya hatiku saat itu karena aku tahu aku harus datang menemuinya untuk memberitahukan hal ini, bayangan kepedihan sudah tergambar di mataku saat itu

“apa aku sanggup menyampaikan ini” dadaku sesak!! Aku ingin menangis, tapi nggak bisa…

Ku sadari kakakku masih bicara di telefon, dia seolah tau kekalutan pikiranku saat itu, di ujung sana dia berpesan agar aku menenangkan diri dulu sebelum menyampaikan berita ini, aku hanya mengiyakan dan berjanji menelfon dia segera beberapa menit lagi.

Aku berjalan perlahan ke arah teman-temanku, setelah mendekat ku minta izin bicara dengan salah satu dari mereka yang sudah ku anggap keluargaku sendiri, kami menjauh dari keramaian dan kusampaikan berita duka ini sembari ku sampaikan bahwa aku mohon bantuan dipesankan tiket untuk pulang besok pagi, penerbangan paling pagi,

Ya Tuhan ….. aku terkejut selepas mengucapkan kata-kata itu, …bukankah sebulan yang lalu aku pernah membooking 2 tiket untukku dan adikku?

Aku ingat betul saat itu aku bilang..” pesan 2 tiket, untuk sekitar tanggal 15 an ya, persiapan aja kalau-kalau mendadak bisa pulang…” sedangkan malam ini ….tanggal 15 Desember,  aaghh… mataku berair…pedih

Tanpa berbasa-basi aku segera mohon diri dari pertemuan, hatiku kacau, langkahku tergesa-gesa, aku tidak menyimak lagi semua kata-kata dan ucapan dukacita yang disampaikan teman-temanku, aku berjalan keluar hotel dengan satu tujuan, tempat kost adikku, sibuk memikirkan bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada adikku, terbayang olehku betapa shocknya dia nanti, dan betapa sesak dan pedihnya aku membayangkan hal itu. Aku cari taksi langgananku, sengaja aku minta tolong padanya untuk mengantar dan menungguku, air mukanya seolah menanyakan apa yang terjadi, aku menjelaskan singkat sambil berusaha menahan perasaanku yang mau meledak ini, aku berusaha tenang meski sulit sekali.

Akhirnya kami tiba di depan tempat kost sekalian tempat kerja adikku, pintunya masih terbuka, aku berjalan masuk menuju anak tangga di belakang, beberapa meter sebelum sampai, adikku sudah muncul, dia menyeringai, ada kegirangan di wajahnya..aku tau karena dipikirannya sebentar lagi ia bisa segera bicara dengan ibu, ..hatiku menangis melihatnya tersenyum, pedih karena aku tau beberapa detik lagi itu semua akan hilang, …aku, aku nggak sanggup membayangkannya…

“ Ayok, aku udah siap nih…” seringainya dengan rambutnya yang masih agak basah, habis mandi.Aku terpaku di tempatku, cuma terdiam, aku coba berekspresi setenang mungkin, untuk menenangkan dia, juga diriku sendiri…

“ Ayo….koq diem aja?” dia makin mendekat ke arahku, matanya mulai memandang ke arah mataku, saat itu aku tak sanggup lagi berbohong, dan dia melihatku menyimpan sesuatu untuk disampaikan….

”….kenapa?….kenapa?”, dalam hitungan detik, dia memegang bahuku mengguncang-guncangkannya sambil berteriak keras,

” KENAPAA?!!” Aku mencoba tetap bertahan tenang meski aku tau mataku sudah mulai berair, dan mulutku kaku…aku ngga bisa bicara apa-apa, tapi aku paksakan membuka mulutku…sambil berdoa kecil dalam hatiku minta pertolonganNya untuk bisa menyampaikan berita duka ini….saat aku membuka mulutku, sorot mata adikku melemah…guncangannya berhenti sesaat, detik yang sama kata-kataku meluncur dengan cepat, lemah ..

” Ki, kamu kuatin hati kamu ya…kita ngga bisa telefon ibu sekarang..” kataku tersendat sambil ku pegang bahu adikku, tanpa menunggu reaksinya,

” Ibu sudah ngga ada, Ki…beberapa menit yang lalu..tadi…?” kataku semakin melemah dan tidak selesai,tapi hatiku jadi was-was, bersiap menghadapi reaksi adikku …dan dengan teriakkan yang memilukan dia membelalakan matanya yang mendadak berair…

” Nggak mungkin!!!…NGGAK MUNGKIIIIN!!!” jeritnya, mendadak tangannya menghantam dinding triplek disebelahnya…DUAAARRR!!!! meninju tembok diseberangnya…BAAMMM!!!, lalu terhuyung-huyung dia sambil menangis dan menjerit, berjalan kedepan…..meninju berulang-ulang krey awning kantornya lalu terjatuh tidak sadarkan diri. Aku yang juga tersentak kaget karena reaksinya yang relflek dan kilat itu tidak punya kesempatan untuk menahannya, untung supir taksi yang mengantarku sudah berdiri di depan, dia cepat bereaksi menahan badan adikku yang pingsan, aku bantu menahan dan membawanya kedalam taksi, ku baringkan di kursi belakang, saat itu seeorang keluar dari tempat kost adikku dan menanyakan apa yang terjadi, terbata-bata aku menjelaskan sambil minta maaf atas kejadian tadi, untung saja orang tersebut mau mengerti, aku langsung pamit dan masuk ke taksi, ku minta diantar ke rumah.

Adikku segera siuman dan langsung menangis tersedu-sedu sepanjang perjalanan, aku hanya bisa menghibur dan menenangkannya sesekali, karena aku juga merasakan kesedihan yang sama, hanya saja sampai saat itu masih mencoba bertahan untuk tidak menangis, aku tidak ingin adikku semakin pedih karena melihatku menangis, teringat tadi betapa tersayatnya hatiku saat ia menjerit pilu, pedih hati yang berlapis-lapis membebani hatiku.kepedihan karena kehilangan ibu yang kami kasihi, seorang ibu yang dengan tegarnya bertahan menjalani kerasnya kehidupan ini, yang tetap setia dalam hari-harinya mendoakan kami anak-anaknya.

Setibanya di rumah, aku dapati dua orang temanku sudah menunggu, mereka mendapat berita duka dari teman-teman di pertemuan tadi dan segera menyusulku ke rumah, mereka menemaniku sampai pukul 7 pagi, adikku masih terus menangis…

Aku pulang dengan pesawat pertama, penerbangan paling pagi, tapi tetap aja terasa lambat…..adikku masih sesenggukan menangis, dia ngga berhenti menangis dari tadi malam…aku bisa maklum karena ini adalah kehilangan besar kedua baginya, setelah kepergian bapak beberapa belas tahun yang lalu…adikku sangat dekat dengan ibu…semasa di jakarta, dialah yang banyak menemani dan berkomunikasi dengan ibu.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, aku langsung cari taksi, perjalanan menuju kerumahku cukup lama karena jarak yang cukup jauh juga…sepanjang jalan aku merasakan kekosongan….blank…meski setiap kali ku ingat ibu ku dadaku jadi sesak…aku masih belum tau juga apa yang berkecamuk dalam pikiran ini…, perjalanan satu jam lebih…macet…

Saat mendekati rumah, jantungku berpacu keras….dari kejauhan tampak tenda duka sudah didirikan…mulai ada sesuatu terasa didadaku..mendesak-desak ingin keluar saat taksi yang ku tumpangi makin mendekat ke arah rumah…beberapa meter dari pintu rumah taksi berhenti, aku buka pintu, kakak-kakakku sudah mendekat ke taksi…aku keluar dari taksi, saat aku berdiri, mataku memandang ke rumah….saat itu meledaklah tangisku…tidak tertahan lagi…aku tiba-tiba nggak kuat lagi menahan tubuh ini, badanku langsung lemas, kakakku dan beberapa orang didekatku memapahku masuk…aku terus menangis…, didalam rumah kulihat jasad ibuku terbujur kaku dalam kebaya putihnya, kepedihanku makin menjadi….penyesalan tiba-tiba menyerangku….

”kenapa tidak aku kabari ibu 2 hari lalu…kenapa nggak kusampaikan hadiah kejutanku tanggal 12 itu…kenapa aku tunda?”….bolak balik aku menyalahkan diriku karena gagal memberi surprise buat dia yang kucinta, …

”kenapa aku mengecewakannya lagi?” …aku tau kini apa yang membuatku sesak….hadiah yang tak pernah bisa aku sampaikan pada ibuku, hadiah natal yang tak pernah terkirim pada penerimanya, aku selalu lambat…aku selalu gagal menyenangkan hatinya….aku menangis dan menangis disebelah peti jenasahnya, tidak mampu berhenti lagi….berulang-ulang kakak-kakakku menenangkanku, tapi aku tak peduli….aku tak bicara, hanya menangis….

Jenasah ibu masih disemayamkan di rumah karena menunggu kedatangan kakakku dari surabaya, sampai keesokan harinya, aku masih menangis dengan penyesalan yang dalam, aku selalu berada dekat peti jenasahnya, aku seperti kehilangan akal…berkali kali aku memindahkan air dari es pendingin dibawah peti jenasah, memegang peti, merapih-rapihkan sesuatu yang sebetulnya nggak perlu, pokoknya aku nggak mau jauh dari peti itu…seolah-olah permintaan maafku yang nggak pernah usai, pikiranku mengambang…bingung, sedih, kesal, bercampur jadi satu.

Setelah kakakku tiba dari Surabaya, saatnya jenasah dimakamkan, sebelum berangkat ke pemakaman ada dua prosesi doa yang musti dilakukan, pertama penutupan peti, sebelum peti di tutup, semua anggota keluarga diizinkan untuk mencium ibu yang terakhir kali, kemudian didoakan dan pemakaman.

Saat itu semua anggota keluarga sudah berada disisi peti, satu persatu dari kakakku tertua mulai memberikan ciuman terakhirnya, sampai pada giliranku, ku pandangi wajah ibuku sebentar, wajahnya tenang, seolah tersenyum, aku masih sempat berbisik dalam hati sambil menahan tangis…maafin aku bu, lalu ku cium pipinya….nyessss….rasa dingin sedingin es saat pipiku menyentuh pipinya sungguh membuatku tersadar dari semua penyesalan dan kepedihanku….saat itu aku seolah disadarkan bahwa ibu sudah tenang di sana, yang ku cium sekarang hanyalah jasadnya, dan aku musti merelakannya jiwanya pergi, bukan menangisinya karena semata-mata penyesalannku karena gagal menyampaikan hadiah natalku…tetapi mendoakan keselamatan arwahnya…mengiringi jiwanya sampai di tahta kebahagiaan dengan doa-doaku….. sejak saat itu, tangisku terhenti, aku jadi lebih tenang…

Sejak lama aku ingin berbagi cerita ini, karena aku berharap, apa-apa yang terlambat aku lakukan, tidak terulang pada rekan-rekan pembaca, pada saat kita masih di beri waktu untuk bisa menyayangi, dan mengungkapkan rasa sayang kita pada kedua orang tua kita…lakukanlah…jangan di tunda!!

jangan sampai kita kehilangan waktu…!!

:: ibu wafat tanggal 15 Desember 2000, pkl.22.15

Tags: the way he touch me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: