Awal Cerita

20 Januari 2010

Saat anak kunci kumasukan kelubang kunci  pintu messku, terasa hpku bergetar, sms masuk, aku batal membuka pintu dan membaca sms

“Bisa pinjemin aku uang nggak, satu setengah juta, aku salah cetak” begitu  bunyinya, dari adikku, Lucky yang mengirim sms

Nggak ku balas smsnya, tapi ku telpon dia

“Kesalahan cetak apa? Kamu emang nyetak dimana? Nyetak apa?” pertanyaanku beruntun

“Cetak tabloid perdana punya tanjung pinang, tapi yang dikirim ke aku rejek semua…” suara adikku bergetar, seperti ketakutan…

“Cetak sama siapa? Kamu dimana, di kost? Tunggu aku ya, aku kesana…!!” kataku sambil melangkah keluar pelataran mess

“Cetak sama pak Tm, iya aku di kost…” jawabnya, tiba-tiba hubungan terputus

Aku bergegas menuruni jalan di komplek perumahan kantor/mess, menuju gerbang masuk, sementara mataku mencari angkutan yang lewat, terlintas dipikiranku untuk menghubungi pak Tm, seorang teman pengusaha percetakan, tempat aku dan adikku menghabiskan banyak waktu berpart-time mendesain berbagai pesanan cetakan.

“Pak, dimana? Adik saya pesen cetakan sama bapak?”

“ Iya, kenapa, Yu?”

“ Udah bapak kirim?”

“ Udah, tadi kan udah sampe katanya, kenapa?”

“ Bagus semua atau ada yang rejek, pak?”

“ Yang pertama rejek, tapi udah saya ganti koq, ohya yang rejeknya saya kirim juga ke dia, sama sisa kertasnya, adikmu udah tau koq, saya kirim ke alamat kost dia..?”

“ Oh, gitu, terimakasih pak” sahutku

Saat itu sebuah angkutan lewat, dan aku langsung naik, menuju tempat kost adikku. Sebetulnya jaraknya nggak terlalu  jauh, tapi karena angkot ini menaikkan dan menurunkan penumpang, maka perjalanan yang harusnya hanya sekitar 7 menit jadi 15 menitan…sampai tiba aku di depan ruko tempat kost adikku. Hmm, bagian depan sudah tutup, sudah lewat jam 5 sore, aku lewat pintu belakang, aku cukup hafal jalannya karena sebelumnya aku yang berkost di tempat itu.

Masuk melalui pintu belakang, aku menemui beberapa tumpukkan kertas berukuran lebar, yang aku yakin adalah barang cetakan pesanan adikku, semua terbungkus rapih, kecuali satu tumpuk, ujungnya sudah robek sedikit…ku dekati, dan ku intip robekannya…hmmmm..kertas kosong, ku sobek makin kebawah, ternyata kertas kosong semua dan potongannya ada yang nggak rata.

Saat ku berdiri dan berbalik badan memandang pintu kamar kost adikku sambil memanggil dia, ku lihat pintu itu terbuka sedikit, dan kunci kamarnya tergantung di pintu…ada rasa aneh bergejolak di dadaku, ku intip kedlam kamar kostnya…., berantakan sekali..dan kosong, adikku nggak ada!! Hanya ada hpnya tergeletak, mati, habis batere.

Aku bingung, tapi terus kembali ketumpukan  kertas dari percetakan, ku robek semua tumpukan, ku teliti isinya, ternyata memang ada 4 tumpukan di bagian depan yang merupakan kertas rejek, 3 tumpukan yang dibelakang adalah cetakan yang bagus, sempat ku keluarkan satu untuk melihat sedikit isinya….sambil aku berpikir….adikku ketakutan karena katanya cetakkannya rejek semua, pasti dia cuma periksa tumpukan yang satu itu, dia nggak cek yang lain..ahhh, kenapa seceroboh itu sih, kenapa nggak di periksa dulu semua…

“ Hey, Way…. Udah ketemu Lucky?”

“ Eh , bang Oji…belum bang, kamarnya kebuka,kuncinya ngegantung dipintu tuh, abang liat dia?” tanyaku pada bang Oji yang muncul dari lantai atas, Bang Oji adalah pemilik kost, temanku juga

“Justru gw mau bilang soal itu sama elu, gw masuk tadi heran liat kuncinya ngegantung disitu, tapi orangnya nggak ada..hpnya di tinggal”

“ Tadi dia sms gue, bang…sekitar setengah jam yang lalu, makanya gue kesini, tapi dia kemana ya, gue telpon pak Tm dulu deh…”

Ku hubungi pak Tm lagi dan menanyakan apakah addiku saat ini sedang menemui dia, tapi jawabannya tidak, seharian pak Tm nggak ketemu dia, cuma mengirim cetakan aja ketempat yang alamatnya udah diberikan beberapa hari lalu… Aku mulai bingung, bang Oji memandangiku, dia tau kebingunganku, dia cuma bilang…

“coba cari sekitar sini, mungkin dia cuma keluar sekitar pertokoan sebelah, beli rokok kali..” tapi nada suaranya seolah nggak terlalu yakin juga

“ Ya udah, bang..gue titip cetakan ini dulu ya, gue cari dia keluar”

“ Ok..lu bawa aja kunci kamar dia, biar nanti bisa masuk dari belakang, gw kunci teralis belakang ya, jaga-jaga barang cetakan itu” kata bang Oji sambil mengiringiku keluar dari pintu belakang

“ iya, bang..gue jalan dulu ya..makasih”

“ telepon gue kalo ada apa-apa ya…”

“ Iya bang, makasih..”

Aku menyusuri ruko disebelah ruko tempat kost adikku, terus sampai ke ujung kompleknya, kutanya tukang parkir di sana, yang kebetulan sedikit kenal dengan adikku…dia menunjukkan arah ke barat

“ dia jalan aja, diem, cuma pake sendal aja, kayak orang bangun tidur…”

“ Oh ..makasih ya bang…” kataku

Ku ikuti arah yang di tunjuk, hmmm, itu menuju ke pondok asri..ke perumahan salah satu teman dekatku yang sudah seperti kakakku sendiri…heh, lumayan juga kalau jalan kaki, tapi mau ngapain dia kesana?..sambil terus berjalan kuhubungi temanku tersebut..

“ Sore, kang…”

“ Eh, Way…eh, tadi Lucky kesini, way…tapi trus nggak tau dia kemana lagi…”

Aku agak terkejut

“ Iya, kang? Terus ngapain dia kerumah akang, dia ngomong apa aja?…”

“ Way kesinilah, sekarang dimana..?”

“ Gue emang lagi menuju rumah akang, gw nyari dia , kang ..jalan dari kost nya…ini bentar lagi sampe tempat akang…tunggu ya..”

Setibanya dirumah kang Dian, aku ceritakan semua yang terjadi sampai akhirnya aku ada disana…Kang Dian juga menceritakan bahwa adikku barusan datang, dan cuma minta tolong dipinjamkan uang 10 ribu, terus pergi…, aku bingung, waktu membahas itu, kang Dian sempat bicara soal perilaku adikku yang agak aneh, seperti orang yang terburu-buru, tapi kang Dian juga nggak banyak tanya, karena kang Dian lebih sering ngobrol dengan aku ketimbang adikku. Aku juga bilang Lucky nggak pegang HP, itu sebabnya aku nggak bisa menghubungi dia, dan aku sama sekali nggak punya ide kemana dia pergi…aku masih membicarakan kemungkinannya lucky pergi dengan Kang Dian sampai tiba-tiba dia muncul di depan pintu rumah kang dian sekitar 10 menit kemudian….

“ Hehehe…malem kang, eh ada netty…” Lucky menyapa tapi dengan ekspresi wajah yang agak aneh, seperti orang yang nggak terlalu peduli sekitarnya, dia langsung duduk, kipas-kipas

“ Lho..kamu dari mana, Ki?” Tanyaku dan kang Dian hampir berbarengan..

Tanpa disangka lucky menjawab dengan jawaban yang aku nggak mengerti, dia menyebut-nyebut nama tempat yang aku belum pernah dengar, dia mengeluh tentang temannya yang membohongi, tapi semua serba nggak jelas, nggak berurutan, sampai kang Dian terdiam lama.., aku langsung mengajak dia keluar sebentar, dia nurut tapi tetap cerita  tanpa berhenti…

Aku pamitan pada kang Dian

“ Gue bawa balik dulu ke kost deh, kang…capek kali dia”

“ Iya, Way..ngocehnya aku nggak ngerti, kayak bukan dia, tapi mukanyanya koq nggak kayak tadi, banyak ketawa-ketawa dia sekarang…bawa pulang dulu suruh istirahat, nanti ada apa-apa Way telpon aku aja”

Aku juga bingung, tapi tetap kuajak dia berjalan pulang kembali ke kost..sepanjang perjalanan, keanehan ulahnya makin menjadi, ucapannya beberapa nggak ku mengerti, cerita tentang bir kuninglah, baloi kolamlah, temannya si anu, aku merekam beberapa tapi nggak bisa menarik satu cerita dari situ…sampai kutanya dia

“ Kamu tadi pinjem uang kang Dian? Kenapa, kamu nggak pegang uang?”

“ Iya..tadi kupinjem sepuluh ribu, buat beli daster istriku dan sendal kecil anakku, buat lebaran nanti”

Aku terbengong-bengong menyimak kata-katanya, tapi nggak berusaha aku tunjukan

“ Emang dapet cuma dengan sepuluh ribu perak?” tanyaku lagi

“ Ya dapet, aku tawar..tapi uangnya kurang, jadi barangnya ku tinggal dulu, nanti kuambil kalo udah uangnya udah ada…” katanya sambil berjalan dan mengangkat kaosnya menutupi mukanya…

“ Panas nih..gara gara bir kuning itu kali ya, hahaha..aku ditawarin minum itu padahal aku nggak mau” celotehnya lagi

Pikiranku makin ribet dan bingung..

“ Bir kuning apa? Trus barangnya gimana? Dasternya emang buat siapa?” tanyaku dengan nada suara yang kutahan supaya nggak terlalu menginterogasi

“ Iya dasternya nggak dapet, jadi aku beli sendal kecil aja, uangnya kurang, harganya tiga puluh ribu, tapi besok boleh diambil, sambil bawa ini nih…” katanya sambil menunjukan kertas nota kecil yang sudah kusut bertuliskan ‘sendal anak’ seharga 30 ribu rupiah dengan tulisan tambahan ‘baru bayar Rp.10.000,-‘….

Saat itu aku tiba di depan sebuah warung nasi, ku ajak Luki berhenti dan makan, aneh, dia nggak bisa milih makanan, semua makanan cuma di lihatnya..trus dia duduk dan itu buka Lucky yang ku kenal selam ini, akhirnya aku yang memilihkan makanan dan membawa ke mejanya, warung itu sepi, sebab sudah lewat jam buka puasa, jadi hanya aku dan dia yang makan saat itu,  dia hanya makan sedikit, mulutnya sibuk bercerita segala sesuatu yang saling nggak berhubungan, sampai suat kali dia bilang

“ aku udah punya katepe, paspor, pokoknya lengkap, jadi sekarang udah aman”

Aku tau bahwa adikku nggak punya paspor, dan ktpnya pun belum selesai di perpanjang, maka ku pancing dia, aku lakukan ini karena aku juga bingung..apa adikku ini sadar atau nggak, sebab mulutnya nggak berbau alkohol juga kalau dia mabok, tapi bicaranya makin ngalor ngidul, banyak hal yang masih tanda tanya di benakku, apalagi ada barang cetakan di tempat kost yang pasti ada pemiliknya, aku harus cari tahu juga soal itu, sementara di terang lampu rumah makan itu aku bisa melihat jelas kalau matanya memerah dan berbinar seperti orang mabok, tapi matanya kelihatan lelah, ada tanda seperti orang yang nggak tidur cukup lama..

“ coba mana liat ktp kamu, paspornya…ktp model baru apa yang lama sih” kataku pura-pura yang sebetulnya hanya mau memancing dia untuk menunjukan ktpnya.

Dia mengeluarkan dompetnya dari saku belakang dan memandanginya, yang aku tau karena terlihat juga olehku…kosong, tapi air mukanya nggak berubah, dia malah mengoceh cerita lagi soal bir kuning dan yang lainnya nggak jelas…aku mulai lelah, aku pikir, sudahlah, dia mungki perlu istirahat, maka setelah membayar makanan, aku ajak dia jalan pulang ke kostnya.

Sampai di depan kamar kostnya, aku masih sempat menunjukan cetakan yang dia maksud, dan ku jelaskan bahwa semua pesanan dia sudah betul dicetaknya, anehnya..dia memandang seperti nggak peduli, terus langsung jalan menuju kamarnya, dan berbaring di tempat tidurnya…

“ Mandi dulu gih, biar seger..” kataku sambil melirik jam, sudah jam  sembilan malam lewat…., tapi dia nggak bergerak, matanya menutup seperti orang pura-pura tidur, aku cuma diam dan mulai memunguti sampah2 dan membenahi dur,kamarnya yang berantakan, mencoba menghidupkan komputer desainnya, tapi kumatikan lagi, sambil duduk di depan komputer kutanyakan mengenai cetakan itu, dia menjawab bahwa itu harus di jilid besok pagi-pagi, dan saat itu aku putuskan untuk menemani dia besok pagi, mengurus penjilidannya., dia hanya diam.

Menjelang jam 10, aku pindah duduk di sebelahnya, ku pesankan dia untuk tidur, dia hanya mengangguk, dan masih bersedia membuka mata sebentar saat aku ajak berdoa bersama, selesai berdoa, ku tunggu dia tertidur…lalu kutinggalkan dia samil menutup pintu kamarnya. Saat menuju ke pintu keluar kost, bang Oji muncul dan menanyakan Lucky, aku katakan bahwa dia sudah tidur, dan aku pamit pulang ke messku, sambil titip pada bang Oji untuk mengabari aku kalau lihat yang aneh tentang adikku.

Karena sudah cukup larut, susah kendaraan untuk kembali ke mess, aku pilih naik ojek, tapi itupun perlu 10 menitan untuk menuggunya lewat depanku, setibanya di depan pintu mess, hpku berbunyi …Bang Oji yang telepon

“Way..lu kesini cepet, si lucky udah pake sepatu tuh, kayaknya dia mau keluar…”

Spontan aku berbalik dan berteriak ke tukang ojek yang baru aja memutar motornya, aku langsung naik lagi dan minta diantar ke tempat tadi dia mengangkutku….perjalanan yang sepuluh menit itu terasa lama sekali bagiku, rasa nggak tenang karena aku takut adikku terlanjur keluar dari kamar kostnya, aku yakin Bang oji nggak berani bicara banyak dengan anak itu, Bang Oji jarang mau melarang orang…

Begitu aku sampai di depan kostnya, segera aku menuju kearah samping gedung menuju pintu belakang kost, disitulah aku berpapasan dengan adikku yang sudah menjinjing tas pakaian kecil, mengenakan sepatu jungle kesayangannya…

“ Lho, mau kemana kamu?…” tanya ku sambil menahan tubuhnya yang terus bergerak melangkah nggak mau berhenti…

Dia mengoceh nggak karuan, tanpa ekpresi, suaranya datar seperti orang kena hipnotis, aku berusaha menahan langkahnya, dan berusaha nggak terkesan panik meski sebetulnya aku bingung setengah mati melihat ekspresi adikku yang asli aneh…

Tiba-tiba di depan kost, dia berhenti diam, dan menangis….lalu mengeluh kepalanya sakit, aku bujuk dia untuk kembali ke kamar kostnya, tapi tangannya berontak saat kupegang..langsung aku meralat kata-kataku..

“Ya udah..ya udah, kita duduk diwarung itu dulu yuk, minum kopi ya, aku bawa rokok nih..” kataku membujuk sambil menunjuk salah satu rumah makan disebelah ruko kost yang masih terbuka. Tanpa memandang atau menjawabku, Lucky langsung menuju tempat yang ku tunjuk, dia duduk tegap, matanya mengarah lurus memandang ke tembok..bengong…

Aku langsung menelpon Kang Dian, jujur aja aku panik melihat perangai lukcy yang aneh…, kuceritakan pada KD soal Lucky, dan KD langsung menyatakan akan datang menyusulku ke tempat kost, dia minta aku menahan lucky dan nggak kemana-mana.

Kupesan kopi buatku dan teh hangat untuk Lucki, kutawarkan rokok, dengan setengah enggan dia ambil rokok itu, tapi nggak dibakarnya, cuma diputar-putar dan dimasukan lagi kedalam kotaknya.

Perlu waktu sekitar 25 menit menunggu sampai KD muncul dengan taksi langganannya, si pak supir langsung mendekati Lucky dan menegurnya, mengajaknya bicara, sementara aku langsung berdiri mendekati KD dan berdua memperhatikan ekspresi dan reaksi adikku itu, dia menjawab singkat-singkat pertanyaan pak supir yang diajukan dengan lembut itu…si bapak menanyakan apa yang dirasakan, ngantuk, capek, pusing…lucky mengangguk untuk semua pertanyaan itu, tapi saat ditanya ‘mau kemana’..dia mulai bengong lagi,diam dan tidak bergerak sedikitpun…

Pak supir itu lalu berdiri, mendekati kami dan bicara kemungkinan-kemungkinan keadaan adikku menurut perkiraannya, dia bilang mungkin Lucky kecapekan dengan pekerjaannya dan agak sedikit stress, memang pak supir itu  juga sempat memijit-mijit badan adikku, dan dia menyarankan membawa adikku ke tempat temannya untuk di urut supaya bisa tidur, sebab kelihatannya dia sudah tidak tidur lebih dari 3 hari….aku hanya bisa diam, aku nurut aja apa kata mereka, mau dibawa kemana, yang penting dia bisa berubah, nggak aneh seperti sekarang.

Akhirnya malam itu kami bersama-sama menemui teman supir taksi tadi, yang ternyata seorang ahli beckam (maaf kalau salah tulis), dan membawanya bersama kami menuju rumah supir taksi tersebut, disanalah Lucky menjalani proses beckam yang cukup lama, karena katanya cukup parah kondisinya karena tidak tidur cukup lama, berhari-hari….sekitar jam setengah empat subuh, prosesnya selesai, dan aku menemui Lucky tertidur, dan KD menyarankan aku untuk menunggu sampai Lucky bangun, KD pun bersiap pulang karena sudah menjelang waktu sahur, aku menurut, ku tunggui Lucky di rumah pak supir taksi tsb, akupun tertidur di karpet ruang tamu sampai sekitar jam 7 pagi.Saat ku bangun, kulihat adikku juga sudah bangun, maka kami pamit pulang, pak supir itu mengantar kami sampai tempat kost Lucky. Begitu masuk tempat kost, wajah khawatir Lucky mulai terlihat lagi, memandang tumpukan kertas cetakan di depan kamar.

“Udah, kamu mandi dulu, nanti sama-sama aku ngurus cetakan ini, udah tenang aja, aku minta tolong temen2ku untuk ngerjain ini nanti..sana mandi” kataku.

Kali ini Lucky menurut, dia mandi, setelah itu akupun mandi, dan kami berangkat membawa kertas-kertas tersebut menuju workshop temanku yang sebelumnya sudah kumintakan pertolongan via telepone.

Proses penjilidan berjalan lancar, tapi adikku kelihatan makin gelisah, sekitar jam satu siang, aku ajak dia makan siang, bersama dengan dua orang temanku yang mengerjakan penjilidan, saat itulah keanehan kembali muncul…saat makan, adikku yang memesan minuman dingin begitu aneh nampaknya, badannya berkeringat dahsyat, keringatnya menetes sebesar butir-butir jagung dan hanya bisa kami pandangi dengan keheranan, karena sejak pagi memang Lucky tidak bicara sepatah katapun, sampai detik itu….

“pembayaan cetakan ini gimana? “ tanyaku membuka pembicaraan

Wajah adikku tampak bingung, dia merogoh sakunya mengeluarkan dompetnya dan bilang

“Uangnya sudah dibayarin ke aku, tapi aku nggak tau dimana…”

“ Hah….” aku cuma bisa memandang dia dengan heran

“Jadi , gimana pembayaran penjilidannya? Kamu ada uangnya nggak?” tanyaku lagi, adikku makin pucat, dia tunjukan dompetnya yang kosong, dengan pandangan kosong juga…

Aku menepuk jidatku, cukup kencang sampai beberapa orang yang duduk disebelah kami menengok semua, teman-temanku Cuma diam…ku pandang mereka sambil bertanya

“Bisa bayar nanti sore, kan? Gw musti cek dulu mau dibayar pake apa semua ini”

Mereka cuma tersenyum sambil mengangguk, saat itu kondisi Lucky makin aneh, badannya makin basah, bajunya basah oleh keringat, aku nggak tau sama sekali dia kenapa, diapun minum banyak-banyak air es, tapi badannya makin berkeringat. Aku segera minta nomer telepon pemesan cetakan dari adikku, lalu ku hubungi, aku buat janji untuk mengantarnya.

Satu jam setelah itu aku sudah di kantor pemesan cetakan ini, mengantarkan cetakan, dengan diantar temanku, Lucky juga ikut, aku nggak berani meninggalkan dia tanpa pengawasanku, sesuatu sudah diluar normal menurutku, ditengah bingung dan panik, aku masih berusaha mencoba mencari cara mengatasi semua ini.

Ku hubungi teman satu messku, kuminta dia mau merelakan rumahnya untuk aku sewa, supaya aku bisa pindah kesana dan tinggal bersama adikku, karena keadaan adikku nggak memungkinkan untk aku tinggal, perangainya aneh dari waktu ke waktu.Setelah membujuknya beberapa kali, akhirnya dia menyetujui, sore itu aku langsung memindahkan barang2 adikku dari tempat kostnya, ke rumah yang aku sewa, aku hubungi seorang temanku, Ali untuk menemani tinggal dirumah itu juga sementara waktu…dan mulai malam itu aku tinggal serumah dengan adikku…sejak saat itulah semua keanehan adikku mulai terlihat lebih jelas..dari waktu kewaktu, yang makin membingungkanku, membuatku khawatir setiap kali lengah sedikit saja, karena selalu saja ada kejadian setiap kali aku tidak memperhatikan dia.

Sejak tinggal serumah, makin jelas keanehan yang nampak pada adikku, aku jadi ikut-ikutan nggak tidur karena khawatir adikku melakukan hal hal yang bikin aku bingung

Satu kali, tiba tiba didalam rumah tercium bau benda terbakar, saat itu aku ada di ruang tamu, dibelakang, di dapur tampak asap mengepul yang asalnya dari jendela kamar adikku, langsung ku dorong pintu kamar adikku dan apa yang ku temukan, dia sedang duduk didalam kamar, membakar semua ijazah dan surat-surat berharganya, dan aku saat itu sudah tidak bisa lagi mencegah apapun karena semua kertas-kertas itu terbakar dengan cepatnya…aku sibuk mematikan api yang masih membakar sisa-sisa potongan kecil kertas-kertas berharga itu, dengan pandangan sedih, aku nggak bisa memarahi Lucky, karena dia sendiri melakukan itu dengan wajah tanpa ekxpresi sama sekali, saat ku tanya dia hanya menyahut

“bau nggak enak disini…”

Saat lebaran datang, seorang teman menghadiahi adikku sebuah baju batik, dimintanya untuk memakai baju batik itu, adikku menurut, dan saat sudah memakainya, dia duduk diam dengan badan tegap di depan tv, berjam-jam, tanpa bergerak, matanya tertuju ke tv tapi pandangannya kosong.Bahkan ketika TV sudah dimatikan, matanya masih terus memandangi TV tersebut sambil duduk tegap sampai berjam-jam

Saat malam, aku harus menungguinya dikamarnya, memperhatikannya, dia akan berbaring dengan tangan tegak lurus dan mata memandang lurus ke langit-langit..dia tidak pernah tidur…

Untuk menyuruhnya mandi, perlu tenaga dan kesabaran yang luar biasa  setiap hari…sampai aku dan Ali sering duduk lemas di depan rumah kalau sudah berhasil menyuruhnya mandi

Suatu pagi, saat ku bangun pagi, aku menemukan dia sudah rapih dengan baju nya yang disemprot minyak wangi, aku terkejut, tapi tetap kutanya

“Wah..udah rapih nih, mau nyari kerja ya..?” kataku sambil tersenyum

“Enggak.. aku mau menyerahkan diri ke kantor polisi!!” katanya tegas…tapi tanpa beranjak dari tempatnya duduk sampai hari siang. Hatiku teriris-iris setiap melihat perangainya yang aneh, jawaban yang diluar dugaan, aku menagngis tertahan, rasa sedih karena aku kehilangan sosok seorang adik yang begitu kubanggakan, kemampuannya yang luarbiasa yang membuatku kagum, semua hilang begitu saja tanpa sebab yang bisa kuketahui

Memasuki bulan ke empat, temanku yang empunya rumah menyatakan bahwa dia harus segera pindah dari mess, kerumahnya tersebut, dia mengijinkan aku tetap tinggal dengan adikku, dia hanya minta satu kamar untuknya, dan dia tidak keberatan atas keadaan adikku, tapi hal itu makin membuat aku merasa bingung…aku harus mengupayakan sesuatu untuk mengatasi masalah adikku.

Aku periksakan adikku ke dokter jantung, syaraf, dan lain lain, semua hasilnya normal, sehat.

Aku hubungi temanku di gereja untuk mendapatkan pelayanan dan konseling untuk adikku, ibu Mariana mengirim seorang untuk menemui adikku dan membawanya secara rutin ke pelayan untuk penyembuhan, selama sebulan lebih, sampai akhirnya Pak Amandus mendatangiku dan mengatakan bahwa dia nggak berubah, tetap saja diam dan nggak bicara, berdoapun hanya ikut komat kamit, seolah nggak dari hatinya, kalau diajak bicara matanya memandang kosong. Adikku kembali tinggal dirumah, aku mencobanya menyibukkan dirinya dengan komputer, sebab sebelum semua kejadian ini, adikku memang jagonya desain, dia suka berjam-jam di komputer, dia bahkan dipercaya sebagai salah satu ahli pra-cetak layout di kantornya, tapi setelah kejadian belakangan, dia hanya menatap kosong di depan komputer yang hidup…nggak ada aktifitas.

Kadang aku memberinya kertas untuk menggambar, karena aku tau dia memang master untuk karikatur atau gambar-gambar kartun, tapi aku harus kecewa karena aku ndak menemukan adikku yang dulu, kertas itu tetap kosong, hanya sekali saja dia menggambar di kertas itu, dan gambar yang menyedihkan hatiku karena gambar yang dibuatnya adalah gambar wajah dengan rambut keriting seperti dirinya, tapi kepalanya bertanduk….

Suatu malam ketika aku titipkan dia di rumah dengan Ali, sekembalinya aku dari tempat kerja, ku temui Ali kebingungan di ruang tamu.

“ Kenapa lagi…?” tanyaku

“ Liat aja ke kamar, kak..”

Begitu masuk kekamarnya, aku lihat semua lantainya putih, bertaburan kapur barus yang sebelumnya tergantung di kamar belakang…

“ Kenapa, Ki…?”

“ Bau busuk…pake ini biar wangi…” katanya tanpa ekpresi

Suatu hari, aku yang kebetulan masuk shift sore, bangun agak siang, aku tidur di ruang tamu, karena temanku pemilik rumah tidur di kamar depan dan adikku di kamar belakang, malamnya aku tidur terlalu larut karena menunggui adikku dikamarnya, ketika pagi ku terbangun karena temanku berangkat kerja, aku cuma melirik sedikit dan meneruskan tidurku, aku sama sekali tidak memikirkan hal-hal lain, sampai aku bangun sekitar jam 10, aku menuju teralis pintu depan, kucari kuncinya, nggak ada, sedangkan pintu dalam keadaan terkunci, ku ketuk pintu kamar adikku, nggak ada suara….ku buka perlahan…, hah, kamar itu kosong, kucari dia kebelakang, nggak ada juga…dan aku  nggak bisa keluar karena pintu rumah terkunci dan kuncinya nggak ada…, dan aku cuma bisa terduduk lemas saat sadar bahwa aku dikunci dirumah, semakin yakin setelah ku hubungi temanku di kantornya, dan kutanyakan keadaan rumah saat dia meninggalkannya tadi pagi, dia bilang sepi, diapun nggak tau apakah adikku ada dikamar atau nggak karena pintu kamar adikku tertutup, lalu kuceritakan keadaanku, temanku hanya bisa menggumam kesal, lalu dia pinjamkan kunci rumah miliknya, lewat temannya yang kebetulan keluar kantor dan mampir ke rumahku. Aku coba periksa apa yang mungkin dipakai oleh adikku, dia keluar rumah pakai topiku, bawa hp milikiku yang lain, pakai sepatu, karena semua itu nggak ada di rumah, aku juga ingat semalam aku memberinya uang 50 ribu, hhhh makin yakinlah aku kalau adikku ngeluyur, aku nggak tau mau mencari kemana, sampai pada siang harinya, sekitar jam 2 siang, tiba tiba dia muncul, dengan wajah yang acak-acakan, telanjang kaki, matanya merah, dan dia senyam-senyum sendiri, tertawa tawa sendiri…nggak usah aku ceritakan gimana perasaanku dan pikiranku, aku sudah tau semua barang yang dipakainya nggak ada lagi dibadannya…tapi aku nggak berhasil mencari tau dikemanakan semua itu…

Belum lagi kejadian dia meghilang ditengah malam, dan aku kelilingi kota batam untuk mencarinya sampai akhirnya dia ditemukan oleh sekurity komplek sedang besembunyi di tepi empang di belakang komplek, berjam-jam.

Semuanya terjadi selama kurang lebih satu tahun, dan aku harus berjuang mengatasi semua itu ditengah pekerjaanku yang bertumpuk, aku mulai sering absen kerja karena sering terpaksa menunggui perangai aneh adikku, Ali nggak berani lagi menunggui adikku. Akhirnya aku mendapat SP3 karena terlalu sering ijin keluar cepat saat jam kerja…keadaan adikku bertambah parah tanpa solusi, keluargaku di jakarta tidak mempercayai cerita keadaan adikku ini, sehingga aku kesulitan sendiri. Semua dokter ahli, psikologi dan para pelayan-pelayan gereja sudah kudatangi, semua hasilnya sama, bahkan teman-temanku yang ingin membantu mulai membawa orang pintar kerumah, tapi hasilnya sama, nggak ada perbaikan dengan adikku.

Semua kejadian, ada lagi beberapa yang bila kuceritakan akan memakan waktu panjang sekali, cukup membuatku pusing, lelah dan betul-betul hampir tak berdaya menghadapinya, dalam doaku aku berharap ada bantuan, atau ada orang yang mau mengerti bahwa keadaan adikku ini memerlukan perhatian. Waktu yang setahun membuat aku cukup mengerti perangai perangai aneh adikku dan hal-hal apa yang bisa memicunya, sementara pekerjaanku dikantor jadi berantakan, aku sudah mendapat cap negatif karena performanceku buruk di absensi, pada saat ku jelaskan kepada managerku mengenai keadaanku ini, bukan pertolongan yang ku dapat tapi ejekan, dan ketidak pedulian yang makin menyudutkan posisiku di kantor. Keadaan kantor yang menyulitkanku akhirnya membuatku dipaksa untuk memutuskan apakah aku akan terus bekerja atau mengundurkan diri, dan sungguh berat luar biasa kondisi saat itu, aku sampaikan kepada pimpinan tertinggi di perusahaan, dan aku mendapat sedikit dukungan, tapi intinya adalah aku nggak bisa meneruskan pekerjaanku, karena akan semakin memperumit kondisiku dan ku yakin keadaan adikku akan makin terabaikan. Keputusan harus ku ambil, aku putuskan untk mengundurkan diri, dan memikirkan pekerjaan lain yang bisa ku kerjakan dirumah sambil aku menjaga Lucky, pikiranku buntu mengenai tindakan yang harus ku ambil terhadap lucky.

Akhirnya aku keluar dari pekerjaan, aku menerima pesangon dan secara kebetulan aku mendapat hadiah dari sebuah bank, semua ku uangkan dan kugunakan untuk rencana pengobatan adikku.Seorang teman dari HRD kantor sempat memberi rujukan supaya aku membawa adikku ke Darmawangsa untuk di diagnosa, aku hubungi rumahsakit tersebut, dan aku mendapat gambaran seperti apa kira-kira pengobatannya, dan lengkap dengan perkiraan biayanya (jumlahnya bikin kepalaku tambah mau pecah). Tapi bagiku, yang terpenting adalah mengetahui dulu sebetulnya apa yang diderita oleh adikku, maka pulanglah aku dan adikku ke jakarta dengan kondisi yang serba tidak mengenakan, karena  salah seorang kakakku menolak menerima kami hanya karena dia tidak percaya bahwa adikku sedang dalam masalah. Ku tekadkan rencanaku, bila kakakku tidak mau menerima kami dirumah, tak apa, biar aku cari tempat tinggal lain.Tapi setiba di jakarta, ternyata kakakku menelpon dan meminta kami tetap pulang kerumah, mungkin kakakku penasaran dengan keadaan adikku juga.

Setibanya dirumah, dengan penerimaan yang agak sinis, aku temukan adikku dengan kakakku…disitulah baru kakakku percaya setelah melihat adikku sama sekali tidak merespon dirinya, adikku mengoceh tentang hal-hal yang membingungkan dan akhirnya menangislah kakakku menyaksikan semua itu, kutunjukkan beberapa bukti pada kakakku, ku bawa cermin ke hadapan adikku dan kami tanyakan padanya  wajah siapa yang dilihatnya di cermin…semua keluarga kakakku menangis melihat respon adikku, aku sendiri sudah nggak tahan sebetulnya melihat perilaku adikku yang menyedihkan, tapi aku ingin meyakinkan kakakku dan keluarganya, maka terakhir ku hidupkan TV, suaranya agak ku keraskan, ku cari channel tv rcti yang menayangkan acara buser, ku minta kakakku memperhatikan reaksi adikku yang seperti seorang buronan bersembunyi ketakutan saat mendengar suara musik pengantar buser yang diselingi suara pembicaraan orang lewat HT…..Setelah itu, kutinggalkan kakakku dan keluarganya bersama adikku, aku keluar, duduk sendiri, mungkin sudah habis airmataku selama ini mengangisi keadaan yang kulihat setiap hari, hari itu aku hanya duduk menghabiskan rokokku sampai menjelang subuh, nggak mampu berpikir lagi.

Kesesokan harinya, tanpa menunda-nunda, kubawa adikku ke RS Darmawangsa, awalnya kakakku melarang, tapi aku sudah tidak peduli, aku lelah..akhirnya kakakku mengijinkan, malah dia minta ikut juga kesana. Tiba disana, setelah mendaftar, Lucky langsung di diagnosa oleh seorang psikiater, dan kakakku diminta untuk menemani, aku menunggu diluar. Sekitar dua jam kemudian aku di panggil, dan duduk mendengarkan penjelasan dari  psikiater hasil diagnosa sementara, sementara kuperhatikan kakaku masih mengusap-ngusap matanya yang berair. Adikku di diagnosa mengalami Schizofrenia yang cukup parah, namun karena dia pasif, kondisinya tidak terlalu berbahaya, dokter menyarankan terapi, dia memberi pilhan, terapi dengan rawat inap atau terapi rawat jalan, kami diajak melihat bangsal perawatan, aku nggak ikut karena selama dua jam menunggu aku sudah berkeliling dan melihat semua bangsal.

Selesai melihat bangsal, kakakku minta ijin untuk bicara denganku berdua…, rupanya kakakku ngeri melihat keadaan penghuni bangsal, yah…hampir seperti rumah sakit jiwa…penghuninya aneh-aneh, dan menurut dokter juga kondisi lucky belum perlu penanganan seperti itu , hanya perlu minum obat agar tidak terlalu sering bengong…akhirnya kami putuskan rawat jalan dengan frekuensi pemeriksaan 10 hari sekali, dan biayanya rawat jalanlah yang sanggup kami penuhi dengan keterbatasan dana yang kumiliki.

Kami kembali kerumah, aku menyerahkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan adikku, ku titipkan pada kakakku, malamnya kami berkumpul, aku, kakakku nomor 4, nomor 3 dan keluarganya, Kakakku yang pertama  dan kedua hanya mendengar pembicaraan kami via telepon.

Selama dua minggu aku di Jakarta, mengikuti perkembangan adikku, obat yang diberikan cukup membantu mengatasi keadaan adikku, tapi dokter juga mengatakan pengobatan ini memerlukan waktu lama, tahunan, sementara dalam hitungan ku, dana yang kumiliki tidak bisa mengcover pengobatan lebih dari 3 bulan, maka kuputuskan untuk kembali ke Batam, mencari pekerjaan-pekerjaan besar sehingga aku bisa mengirim biaya tambahan untuk pengobatan berikutnya. Minggu ke tiga aku kembali ke Batam, dan sempat berpesan pada kakakku dan semua keponakanku untuk menjaga Lucky, karena tdiak seorangpun yang tau apa yang akan diperbuatnya tanpa pengawasan, dia bisa saja hilang, pergi entah kemana, dia bisa saja membakar-bakar sesuatu, meski kelihatannya kakakku dan suaminya nggak terlalu percaya aku, tapi ke empat keponakanku menaruh perhatian besar pada adikku, keponakanku yang paling besar dan adik laki-lakinya berjanji akan mengawasi dan mengabari aku mengenai segala sesuatu tentang adikku. Awal bulan Mei 2003, aku kembali ke batam.

Kembali ke Batam, aku bergumul dengan kesibukan mencari uang, pekerjaan dan juga mencoba mencari tahu mengenai sebab musabab masalah yang dihadapi adikku. Kurangkaikan banyak hal yang telah terjadi selama aku menjaga dia setahun, perilaku, kebiasaan-kebiasaan, ekspresi, makanan, dan ku temui teman-teman sekantornya dulu, di perusahaan percetakan tempat dia bekerja selama kurang lebih 3 tahun sebelum kejadian tersebut.

Aku browsing internet tentang Schizofrenia dan segala penyebabnya, mencari banyak hal yang mungkin punya kesamaan pola dengan keadaan adikku.

Ku datangi 3 orang teman yang pernah menjadi pecandu narkoba kelas satu, kebetulan salah satu diantaranya adalah orang yang ku minta memeriksa perilaku adikku saat Lucky masih tinggal bersamaku, dia bantu aku mengenai berbagai macam akibat dari psikotropika, dari kelas sabu-sabu sampai heroin dan sekelasnya, dari sana aku dapat pengetahuan tentang pengaruh kejiwaan, syaraf dan reaksi umum bekas pemakainya.

Aku ingat bahwa aku pernah memeriksa badan adikku waktu dia ku bawa ke dokter untuk check-up, nggak ada bekas-bekas luka di tubuhnya yang mencurigakan yang mengarahkan kemungkinan dia sebagai pemakai. Kecuali satu hal…dia selalu mencium bau aneh, menurut penuturannya waktu itu, dan halusinasi yang cukup parah, menurut apa yang ku dapat, ada sejenis heroin atau PT (Putaw-istilahnya) yang bisa di gunakan dengan cara di hirup lewat hidung, dan aku mencurigai kemungkinan itu sebagai salah satu hal yang memicu keadaan Lucky, sebab cuma cara itu yang nggak meninggalkan banyak bekas kecuali gangguan pada indra penciuman, ku catat hal tersebut, ku cocokkan dengan beberapa kejadian dimana dia sering mengeluh tentang bau busuk dan bau aneh yang mengganggunya.

Dirumah kontrakan, ku baca semua majalah yang pernah dia kerjakan, ada beberapa karikatur dan ilustrasi kartun yang dibuatnya dan dimuat di beberapa majalah terbitan kantornya, ku amati polanya, ku pelajari gambar-gambar yang pernah dia buat, kartu namanya sendiri saat masih bekerja di majalah, memang ada yang aneh….

Dari cerita teman-teman sekantornya ku tahu bahwa Lucky hampir nggak pernah keluar kantor, karena mess nya juga kebetulan berada di lantai 3 kantornya.Kebiasaan-kebiasaanya selama di mess kantor juga ku tanyakan ke beberapa mantan rekannya.

Komunikasiku ke Jakarta tetap kulakukan, lebih sering dengan kakakku yang cowok dan keponakan-keponakanku, karena keponakanku yang lebih sering mengamati perilaku adikku. Dari mereka ku ketahui banyak hal dan perkembangan yang kemudian menjadi hal yang makin mengkhawatirkan ku. Pengobatan dan terapi berjalan sampai dua bulan, memasuki bulan ke tiga, perangai aneh adikku muncul lagi, dia mulai suka keluar rumah diam-diam, setelah selama dua bulan lebih banyak mengurung diri di loteng atas rumah ibuku di Jakarta. Kakakku yang pertama juga mengupayakan pengobatan alternatif, begitu banyak kegiatan juga ditawarkan kepada adikku, tapi dia semakin pasif. Keadaan itu rupanya sempat membuat kakak2ku menyerah, karena segala upaya sudah dilakukan untuk membuat adikku kembali bersosialisasi..hasilnya nihil…

Akhir bulan Juni 2003, aku hubungi keponakanku, entahlah ada rasa nggak tenang saat itu, kepingin tau keadaan Lucky, dan waktu bicara dengan keponakanku, Eko…aku kaget, karena ternyata beberapa hari sebelumnya Lucky sempat menghilang lagi, meskipun ketemu juga akhirnya, dia menghilang dari rumah dan ditemukan di depan mesjid yang letaknya di pintu masuk komplek preumahan tempat kakakku tinggal, keadaannya: hanya pakai celana pendek, nggak pakai baju, menenteng tas berisi pakaian, beruntung tetangga-tetangga masih mengenali dia, dan mengabari keponakanku untuk membujuknya pulang, dia mau pulang.

Pada lain kesempatan, aku di telpon keponakanku, beritanya: “Om Lucky hilang lagi, sudah semalaman…. Kami masih nyari nih”, aku Cuma bisa berdoa saat itu, berharap dia cepat ditemukan sampai akhirnya Eko menelponku lagi,

“ Udah ketemu, tante…ketemunya di jembatan penyeberangan UKI, dia tidur disana, ada tetangga yang liat dan kita langsung di kasih tau, trus Rendy(adik Eko) langsung datang kesana dan ngebujukin Om Lucky untuk pulang, susah sih, tapi akhirnya mau juga”…

Entah sudah seperti apa perasaanku waktu itu, setiap kali mendengar berita tentang adikku, cuma bisa menangis sendiri, nggak tau lagi bisa ngapain, aku justru jadi semakin pendiam kalau dengar berita tentang Lucky, kadang malah nggak bisa berpikir apa-apa. Aku tau bertapa sulitnya kakakku dan keponakanku sekarang mengurusnya, dan semakin sulit mengawasinya karena mereka juga harus kerja, nggak punya waktu penuh untuk mengawasi.

Berita berikutnya, kakakku yang paling tua mendapat kesempatan untuk menempatkan Lucky di asrama Doulos-Cipayung (maaf kalau salah tulis), supaya bisa mendapat terapi, juga pelatihan-pelatihan untuk menghindari dari kebiasaan bengong dan melamunnya, kami semua setuju, maka Lucky masuk disana, sekitar dua bulan lamanya, ada perkembangan bagus..dia bisa mulai bisa bantu-bantu kerja di sana, tapi hal itu nggak berlansung lama, tau-tau dia menghilang lagi, nggak muncul-muncul lagi di asrama itu..hhhhh

Beberapa hari setelah itu, keponakanku memberi kabar kalau Om Lucky sering kelihatan di mesjid di belakang kompleks, dan kakakku (orang tua Eko) memutuskan untuk menemuinya disana, membujuknya pulang, tapi hasilnya nihil, dia berhasil ditemui, diajak bicara meski bicaranya kacau, dan tidak mau pulang.kali berikutnya keponakanku gantian menemui dia di mesjid yang sama, membawakan makanan, pakaian ganti, dia menerima semua itu, tapi tetap menolak pulang dan kadang ditengah pembicaraan dia mulai ngoceh aneh, mengaku-ngaku dirinya dengan nama lain, tidak mengenal keluarga kami.Hanya beberapa kali lagi setelah itu adikku bisa ditemui disana, sampai akhirnya, setelah lebaran tahun 2003, adikku nggak ada lagi disana, keponakanku berusaha mencarinya berhari-hari di sekitar daerah itu, hasilnya nol. Mereka mengabariku setelah lebih dari satu bulan mencarinya dengan hasil nihil.Saat itu, keluargaku, kakak-kakakku dan aku sendiri sudah pasrah, kami juga sedang dilanda masalah ekonomi yang rumit sehingga semakin sulit bagi kami untuk mencari dia…aku berusaha mengerti keadaan ini, meski perasaan khawatir terus ada di hati ini.Kami mulai kehilangan jejaknya, dan waktu berjalan, Lucky nggak bisa di temui dimanapun.

Aku dan kakakku pernah menyurati PMI pusat minta bantuan untuk mencari dia, nggak ada hasil, kakakku malah pernah mencoba menanyakan ke stasiun tv yang punya program mencari orang hilang, tapi prosedurnya yang rumit dan melibatkan biaya yang banyak membuat kami mundur.

Kami sekeluarga akhirnya memutuskan untuk mencari sebisa kami, dengan selalu memperhatikan di setiap tempat yang kami kunjungi, di manapun di Jakarta, kami jadi punya kebiasaan untuk menyusuri jalan-jalan di jakarta pelan-pelan hanya untuk mengamati setiap orang yang liwat, mana tau akan kelihatan adik kami diantara orang banyak itu, kami juga datangi daerah-daerah kumuh, tempat berkumpul anak-anak jalanan, mesjid-mesjid, sudut-sudut jalan, berharap melihatnya ada disana dan bisa mengajaknya pulang. Selama kurang lebih 3 tahun keadaan itu kami jalani, sambil terus berdoa untuk keselamatannya, lama-lama hati ini pasrah dengan keadaan, dan hanya mencoba meyakinkan diri dalam iman.

Kami selalu menonton tv dengan was-was, bahkan kadang berpikiran buruk, ketakutan kalau sampai dengar berita ditemukannya orang tak bernyawa di mana, kami selalu berusaha mencari tau ciri-cirinya, dan berharap itu bukan ciri-ciri yang kami kenal…aku dan semua kakakku mengalami beban yang sama, ketakutan, gelisah, dan berharap tidak terjadi hal-hal buruk pada Lucky. Kakak laki-lakiku sering meleponku hanya untuk curhat soal perasaannya tentang Lucky, kekhawatirannya dan keluarganya tentang keadaan Lucky, dimana ya dia, makan nggak ya dia, kalau hujan besar dia tidur dimana? Pakaian dia gimana ya? Itu saja pembicaraan kami di telepon, sampai kami lelah dan sama-sama saling menguatkan, sepakat membawanya dalam ujud doa di misa setiap minggu, selama 3 tahun akhirnya hanya itu yang bisa kami lakukan.

Tahun 2007, selesai misa malam Paskah, saat sedang bersalam-salaman di depan gereja dengan beberapa rekan mudika, aku hidupkan Hpku, dan SMS pertama yang ku terima seperti siraman air sejuk di malam Paskah itu, isinya: Berkat Paskah bagi keluarga kita, hari ini Lucky pulang kerumah.

Mataku berkaca-kaca, dan aku langsung menyingkir dari keramaian, kembali kedalam gereja untuk mengucap syukur, entah bagaimana ceritanya, aku nggak peduli saat itu, aku ingin berterimakasih karena Tuhan mendengar semua doa dan menjawab penantian kami selama ini, mengembalikan adikku kembali kerumah.

Sejak itu, Lucky kembali tinggal di rumah, keadaannya banyak berubah, dia sudah mulai mau bicara, tapi masih tertutup, dan masih suka menyendiri di dalam rumah, beberapa kali dia mencoba kerja di jakarta, meskipun ternyata secara mental dia memang masih belum siap. Akhir tahun 2007, saat untuk suatu keperluan aku harus ke Jakarta, aku temui dia dirumah kakakku, aku senang karena bisa ngobrol biasa dengan dia, meski kadang harus susah payah berusaha mendengar ceritanya terputus diselingi cerita-cerita anehnya. Saat itu aku menawarkan pada kakakku untuk mengajak Lucky ke Batam, mungkin bisa ikut aku kerja, atau mencari pekerjaan sendiri, kedua kakakku meski di selingi sedikit ke khawatiran, menerima secara positif. Dan semuanya dikembalikan pada Lucky sendiri, terserah apakah dia mau atau nggak. Lucky ternyata mau coba kerja di Batam. Sejak kembali kerumah, kakak2ku lebih hati-hati berbicara dengan Lucky, takut dia pergi dan menghilang lagi, karena masih ada banyak hal yang belum berubah dari dirinya menurut pengamatan mereka. Kakakku secara khusus mengajaku bicara atas niatku mengajaknya ke Batam, mereka menanyakan apa aku siap menghadapi segala kemungkinan terburuknya, mengingat Lucky belum terlihat pulih total dari perangai lamanya, aku bilang bahwa aku hanya ingin memberi kesempatan, itupun kalau diijinkan, aku nggak berani menjanjikan banyak hal, aku hanya mau memberi kesempatan Lucky untuk mulai aktif lagi, semangat lagi. Akhirnya setelah cukup lama berdiskusi, masih dengan ke khawatiran, kakakku mengijinkan, maka aku pulang ke Batam bersama Lucky.

Kegiatanku berjalan biasa, Lucky sering ku ajak dalam pekerjaan-pekerjaanku dilapangan, meskipun disana aku menemui keanehan-keanehan sikapnya, tapi aku berusaha untuk menyelami lebih jauh apa sesungguhnya beban hatinya, karena seringkali dia mengoceh nggak karuan soal mayat di selokanlah, atau pembunuhan, atau penjualan manusia.Pada beberapa kesempatan aku berhasil mengorek kisahnya selama menghilang 3 tahun, dengan bangganya dia bercerita bahawa dia hidup dijalanan, dari Kedoya sampai ke Kuningan-jawa barat, sampai saat dia terjaring operasi Yustisia dan masuk kedalam panti penampungan dan belajar bercocok tanam dan akhirnya kembali ke rumah di jakarta. Aku makin betah di rumah, rasanya nggak tenang kalau sudah mulai sore masih diluar rumah, ada keinginan yang kuat untuk cepat-cepat sampai di rumah, duduk dan bercerita dengan Lucky sambil makan malam seadanya.Ku biarkan juga dia mencoba melamar pakerjaan di beberapa percetakan, ku kenalkan dengan beberapa temanku supaya dia bisa mencari informasi sehubungan dengan nianya mencari kerja, pendek kata, aku mencoba memperlakukan dia sebagai lelaki dewasa yang bisa menentukan jalannya sendiri.Setiap hari minggu ku biasakan dia kegereja bersamaku, aku nggak berharap banyak karena apa yang kulihat di gereja, dia tetap banyak melamun, diam tapi tidak mengikuti jalannya misa, kadang aku harus mencoleknya saat dia masih duduk melamun sementara semua umat sudah berlutut. Beberapa kesempatan kubiarkan Lucky pergi ke gereja sendiri, nggak ada masalah.

Awal tahun 2008, aku mendapat tugas untuk mengikuti pelatihan di jakarta, tugas dari asosiasi yang kuikuti, kusampaikan hal ini 2 hari sebelum keberangkatanku, saat ku ceritakan bahwa pembiayaan pelatihan ini di tanggung oleh asosiasiku, ada wajah kecewa kulihat pada Lucky, aku coba menenangkannya, ku beri tahu bahwa aku cuma 3 hari di jakarta, tapi kekecewaan itu tetap nampak diwajahnya.

Keesokan harinya, pagi hari aku keluar rumah untuk mengurus sedikit pekerjaan dan persiapan keberangkatanku ke jakarta, aku nggak ngajak Lucky karena dia masih tidur. Saat pulang sore harinya, ku temui rumah terkunci, kuncinya di titipkan di tetangga depan rumah, aku heran, Lucky nggak pernah keluar sendiri sampai menitipkan kunci, biasanya cuma keluar ke warung terdekat untuk beli rokok aja, tapi sore itu dia nggak ada di rumah, menurut tetanggaku, dia keluar sekitar jam 12an siang hari, berarti sudah cukup lama, sekitar 6 jam dia meninggalkan rumah.

Sejak ke Batam lagi, aku memang agak khawatir kalau Lucky pergi terlalu lama, mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya, pernah satu kali dia pergi ke pasar untuk beli rokok, lama sekali, sampai aku dan teman yang kebetulan tinggal dirumah juga bergantian mencarinya kepasar, hujan-hujan…tapi akhirnya dia pulang juga setelah 1,5 jam. Kali ini, sudah berjam-jam dia nggak kembali, saat waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, aku panggil teman dan ojek langgananku, minta diantar keliling untuk mencari dia, aku berkeliling sampai jam 1 malam, ke semua sudut di daerah tinggalku itu, sampai membangunkan orang yang tidur di halte, masuk ke tempat-tempat yang kelihatannya mungkin jadi tempat yang bakalan di kunjungi Lucky, ada satu hal yang ku catat mengenai Lucky, dia nggak suka tempat yang ramai, dia suka di tempat yang sepi, nggak banyak orang, beberapa teman yang kutemui juga menawarkan bantuan mencari, dan minta aku kontak mereka terus apapun hasil pencarian malam itu. Sampai jam 1 lewat, aku dan temanku kelelahan mencari, kami pulang, aku nggak bisa tidur, gelisah dan khawatir, sampai tiba-tiba kakakku telpon dari jakarta, mungkin dia merasa juga ya, dia langsung menanyakan ada apa dengan Lucky? Aku terbata-bata menjawabnya, antara sedih, takut dan khawatir, tapi kakakku justru jauh lebih tenang, dia cuma minta aku berdoa, dan istirahat, menyiapkan diri untuk keberangkatanku ke jakarta esoknya, dia juga sempat menduga bahwa adikku ngambek karena aku ke Jakarta tanpa mengajak dia, tapi kakakku minta aku nggak usah banyak berpikir soal itu.Akhirnya sekitar jam 4 subuh, setelah berdoa, aku tertidur.

Sekitar jam 8 pagi aku bangun, dan langsung mempersiapkan diri untuk keberangkatan ke Jakarta, dengan hati yang bingung, memikirkan nasib Lucky, aku masih sempat titip pesan pada temanku yang membantu mencari Lucky untuk terus bantu aku mencari Lucky selama aku di Jakarta, aku tinggalkan sejumlah uang untuk kebutuhan bensinnya dan kalau bisa ketemu, untuk mengantar dia ke rumah, aku juga titipkan kunci rumahku pada dia dan pada tetangga depan rumah.

Selama menjalani training di Jakarta, pikiranku nggak fokus, sebentar-sebentar aku sms temanku hanya untuk menanyakan soal adikku.Untungnya di hari ke 2 training aku sudah bisa sedikit fokus, sehingga aku bisa menyelesaikan tugas training yang cukup berat sore itu dengan cukup baik.

Sekitar jam 5 sore, teleponku berdering, telpon dari temanku di batam, dia hanya bilang “ Lucky udah ketemu, aku lagi bujukin dia supaya mau pulang, nanti aku ceritain ke kakak, Lucky ketemunya dimana, udah ya”

Ahhh…betapa senangnya hatiku, aku langsung mengabari kakakku mengenai hal itu, bersama-sama kami memanjatkan puji syukur.

Dua hari sesudah itu, aku kembali ke Batam, sebelum sampai rumah, ku temui temanku yang menemukan Lucky, aku tanyakan di daerah mana dia menemukan Lucky, dan ternyata memang keadaan belum berubah terlalu banyak, dia menemukan adikku sedang mengais-ngais sesuatu di tempat pembuangan sampah, disamping sebuah gedung penerbitan majalah, beberapa ratus meter dari komplek prumahan tempat aku tinggal. Aku miris mendengarnya, tapi ku tenangkan diriku sendiri, aku nggak mau menegur Lucky perihal kaburnya dia dari rumah, aku belikan dia rokok, dan nescafe kaleng kesukaannya.

Setibanya dirumah, aku mandi, dirumah ada Lucky, temanku dengan anaknya yang berumur 4 tahun yang tinggal dirumah sejak setahun yang lalu, tapi karena dia sibuk berjualan, kadang dia dan anaknya nggak pulang, kecuali malam itu, dia ada dirumah. Saat itu kulihat Lucky sedang nonton TV berdua dengan anak temanku yang berusia 4 tahun, yang memang selama ini cukup dekat dengan Lucky, hanya anak kecil itulah yang bisa membuat Lucky tertawa-tawa riang di rumah karena ulah lucunya (suatu hal yang jadi catatanku mengenai perilaku adikku yang cukup responsif terhadap anak kecil ini).

Selesai mandi aku duduk di guang samping rumah, dengan pintu gudang yang terbuka, saat itu Lucky ternyata sudah duduk disana juga, sambil merokok, aku keluarkan nescafe kaleng yang kubeli tadi, kuberikan pada dia satu, aku satu…nggak ada pembicaraan apa-apa, karena ku lihat Lucky nggak terlalu suka dengan kedatanganku, aku hanya duduk di sebelahnya, di kursi kayu yang dibuatnya saat senggang dirumah, aku sampaikan bahwa kakak-kakak yang lain kirim salam, aku bercerita soal perjalanan pulang yang melelahkan, dan dia menjawab seadanya sambil menimpali dengan cerita mengenai kepergiannya dari rumah dan bertemu temannya yang kerja di pembangunan rumah di komplek seberang, sampai saat aku mulai dengan hati-hati bicara mengenai kepergian dia dari rumah, aku cuma bilang,

“ Kalau kamu mau kerja, nggak apa…tapi jangan lupa pulang kerumah, disini kan kamu bisa makan, mandi, istirahat…bisa cuci baju disini, habis itu kamu mau ke tempat kerjamu lagi ya silahkan, kalo perlu kamu bawa kunci rumah ya”. Dia hanya manggut, dan diam sejenak sampai tiba-tiba dia berdiri dan berteriak-teriak

“ Iya, tapi aku nggak suka sama orang-orang itu, mereka membunuh, mereka menjual orang…!!!”

Aku yang terkejut langsung bilang..” Eh, kamu kenapa…siapa yang membunuh? Tenang dulu.., ada apa?” aku berdiri berusaha memegang bahunya.

Saat itu, tanpa menjawab aku, dia menengok ke arahku, matanya melotot dan tangannya meraih rambutku, menarik kepalaku dengan tangan kirinya sehingga aku terbungkuk, dengan posisi tangannya menahan kepalaku setinggi pinggangnya, tangan kanannya langsung memukuli kepalaku sambil berteriak-teriak

“ Kamu bunuh orang itu!!!, kamu jual dia!!!!, rasain ini..!!!” tangan kanannya bertubi tubi memukul kepalaku bagian kiri, pelipis kiriku, aku nggak ingat berapa kali, karena saat itu, ditengah kagetku, aku berusaha melepaskan diri dari pegangan tangannya, aku meronta-ronta di posisi yang sulit itu, sampai akhirnya berhasil melepaskan diri dari tangan kirinya dan berusaha berdiri tegap, tepat saat aku berhasil berdiri tegap, tangan kanannya langsung mencekal leherku, mendorongku keberlakang dengan keras, dan membenturkan badanku ke tumpukan papan dibelakangku, saat badanku membentur tumpukan papan yang posisinya setengah berdiri itu, tumpukan itu amblas, mengikut jatuh badanku, dan badanku terjepit diantara patahan dan robekan papan yang amblas, tapi tangan kanan adikku terus menekan di leherku, dan tangan kirinya menghujami aku lagi dengan tinju-tinju keras, kearah kepalaku, kening dan mukaku, bertubi-tubi..makin lama makin keras, juga cekikannya di leherku sampai aku kesulitan bernafas, dia terus berteriak-teriak mengatakan aku pembunuh, penjual manusia, dan segala macam cacian yang sama sekali nggak aku mengerti.

Tanganku yang terjepit diantara kayu-kayu patah dengan paksa ku tarik, sementara aku makin nggak bisa bernafas karena cekikannya, saat tanganku bisa lepas, hanya satu pikiranku, yaitu mengalah! Aku angkat tangan kananku, dan minta ampun padanya, aku bilang

“ iya..aku salah!!, aku minta ampun!!…aku minta ampun..!!”, hanya itu satu satunya cara untuk membebaskan leherku dari cekikkannya yang mulai membuat mataku berkunang kunang karena kehabisan nafas, ditambah lagi pukulan-pukulan yang mendarat di wajah dan kepalaku…

Cengkeramannya mengendur…dan kemudian dia lepaskan aku dengan kasar, secepat kilat dia mundur, dan tangannya mengambil sesuatu dari balik taplak meja dibelakangnya…sebuah pisau!! Diacung-acungkannya pisau itu kearahku tanpa berkata-kata tapi dengan pandangan yang nanar mengerikan, sementara saat itu aku masih berusaha bangkit keluar dari lubang kayu yang amblas. Saat aku berdiri di depannya, dia mundur sambil terus mengacung-acungkan pisau, lalu secepat kilat dia berlari keluar melalu pintu gudang yang terbuka tepat di sebelah kirinya, aku berusaha mengejarnya sambil memanggil namanya, tapi dia berbalik sambil terus mengacung-acungkan pisaunya, dan lari dengan cepat kearah jalan raya, aku berusaha mengejarnya, tapi kakiku nggak bisa lagi melangkah karena baru saat itu kepalaku terasa sakit dan pusing bukan main, hampir aku jatuh karena pusing, aku berjongkok…sambil menutup mata karena semua kepalaku sakit, aku langsung merogoh hp dari sakuku, dan menghubungi temanku, kusampaikan pada temanku yang kebetulan adalah satpam komplek mengenai kejadian barusan, dan minta dia mengingatkan teman-teman sekuriti di posnya untuk waspada, karena adikku bawa pisau, kalau ada yang lihat, jangan gegabah mendekatinya.

Temanku satpam langsung datang kerumah, menemui aku yang duduk didepan rumah, sementara teman serumahku, mengendap-endap keluar dari kamarnya, dia menyaksikan kejadian tadi, dan dia ketakutan setengah mati, apalagi anaknya, akhirnya tanpa bisa berbuat apa-apa dia mengunci diri di kamar, dia sudah berusaha menghubungi temanku satpam komplek itu, tapi teleponnya susah di hubungi, dia terkejut melihat ku duduk di depan rumah dengan muka yang babak belur karena pukulan-pukulan tadi. Saat itu aku menelpon kakakku, tapi gagal, akhirnya aku cuma kirim sms yang isinya: Lucky kabur lagi!

Temanku segera mengejar dengan motor, berusaha menyusul adikku, tapi dia sudah menghilang entah kemana, sejam kemudian dia kembali ditemani kakaknya, seorang reserse, dan kami bicara mengenai adikku, kejadiannya, dan aku minta saran, reserse itu cuma minta aku kunci semua pintu saja malam ini, dia akan patroli keliling komplek untuk pengamanan.

Saat Kakakku telepon, aku baru ceritakan kejadiannya, dan dia terkejut bukan main saat tau bahwa adikku memukuli aku, karena hal itu aneh, Lucky memang aneh tapi dia nggak pernah mukul siapapun, dan kejadian denganku ini sungguh diluar dugaan karena menurut kakakku, akulah yang paling didengar oleh adikku, tapi kenapa justru aku dipukuli olehnya.

Aku cuma bisa diam, nggak bisa mikir, kepala pening, dan bekas pukulan-pukulan itu mulai membengkak, mukaku bengkak dan luka-luka kecil, tapi sakitnya nggak seberapa dibanding keadaan yang terjadi dan kenyataan bahwa adikku membenci aku tanpa sebab yang jelas. Malam itu aku serba salah, mengharap adikku pulang sementara masih ada sedikit rasa takut pada dia, kakakku juga menyarankan hal yang serupa seperti pesan reserse tadi, kunci semua pintu, takut kalau-kalau dia kembali dan berbuat lebih kasar lagi.

Kakak-kakakku yang lainpun mulai menelpon aku bergantian, mereka semua ketakutan. Tapi untungnya sakitku makin reda di tengah malam, aku hanya nggak bisa tidur karena nggak bisa menyandarkan kepala kemana-mana karena bengkak dan luka.

Dua hari setelah itu, Lucky belum juga pulang, aku memutuskan untuk mencari dia, siang dan malam, nggak berhasil. Hari ketiga aku mengurus kerjaan, dan sorenya mendapat kabar kalau temanku ketemu lucky, dia langsung kerumah untuk ngabari aku, dia bercerita kalau dilihatnya tangan kanan Lucky bengkak, dan waktu ditanya, Lucky bilang itu karena berkelahi denganku, hhhh….Aku nggak bisa bicara banyak karena ternyata Lucky nggak mau diajak pulang dengan alasan nggak mau ketemu aku, aku cuma titipkan uang dan minta temanku untuk membelikan nasi bungkus untuk adikku ini.

Dan berminggu-minggu setelah itu, Lucky masih sering kelihatan di sekitar perumahan komplek, tapi nggak mau pulang, beberapa teman yang mengenal dia mengajaknya pulang, tapi dia menolak, sekali aku berusaha menemuinya, tapi dia melarikan diri lagi, sampai akhirnya kakakku berpesan padaku untuk nggak berusaha menemui dia, tapi tetap memantau dia lewat bantuan teman-temanku.

Empat bulan sesudah itu, Lucky nggak kelihatan lagi di sekitar perumahan tempat aku tinggal, tapi beberapa teman mengabariku kalau mereka ketemu Lucky di pasar di daerah Jodoh, di daerah tempat kerjanya dulu, mereka bahkan pernah ngobrol dan mengajaknya pulang, tapi dia menolak dan menjawab kalau dia lebih bahagia hidup dengan caranya saat itu, lebih bebas, nggak ada yang ngatur.

Dan sampai saat ini, saat kuceritakan semua ini, Lucky masih diluar sana, sudah setahun lebih, hampir dua tahun mungkin, dia memilih jalan hidupnya sendiri, kami sekeluarga bukannya nggak mau lagi berusaha, tapi semua sadar bahwa Lucky yang usianya sudah hampir 40 tahun itu bukan lagi anak kecil, dia seorang lelaki dewasa yang sudah bisa memilih jalan hidupnya, meskipun pilihannya bukan pilihan yang menurut kebanyakan orang pilihan terbaik, yaitu hidup dari mengumpulkan botol-botol plastik dan tinggal di sudut-sudut pasar, beberapa menyebutnya pemulung, beberapa mengejeknya sebagai gembel, tapi bagiku dan keluargaku, dia tetap adikku, adik kami, yang selalu ku tunggu kembalinya kerumah ini, dalam keadaan apapun, yang selalu kurindukan untuk ku temui ditengah perjalanan malamku pulang kerumah, yang selalu kuharapkan bisa kusapa dan ku temani merokok saat dia duduk nyantai di sudut pasar. Semua harapan itu terus hidup sampai detik ini, jangan tanyakan lagi  perasaanku, aku nggak mau kehilangan dia…aku mau dia kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s