The Way He touch me       

      Nov 2, ’07 3:34 AM

 Ngga ada kisah yang bisa membuat aku merinding saat mengingat dan menceritakannya kembali selain kisah hidupku yang satu ini, satu satunya kisah  yang  mampu  membuat  aku  mau  menyangkal  ego-ku  sendiri  yang belasan bahkan puluhan tahun ‘mati-matian’ aku pertahankan. Ego yang membutakan mataku akan setiap detik yang kulalui selama hidupku saat itu, yang membuat diriku ‘mati-rasa’ terhadap banyak hal penting dalam kehidupanku, yang membuatku meyakini secara bertolak arah semua hal-hal penting itu

Peristiwa itu terjadi dua tahun setelah aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi pekerja pada suatu perusahaan besar, keputusan yang aneh bagiku tapi tetap aku pilih karena seribu alasan dan tuntutan pribadiku, karena  pergolakan  dalam  hati  yang  tak  kunjung  surut. Keputusan  aneh karena aku harus menanggalkan status ‘mapan’ku begitu saja, meninggalkan keadaan  nyaman  yang  ku  rintis  selama  belasan  tahun,  meninggalkan

‘keberadaan dan kebanggaan’ yang diidamkan banyak orang.Keputusan yang berarti..hidup seadanya, kerja keras dari nol.

Hari itu, hari ke tiga aku ‘puasa’, ngga ada apa-apa lagi yang bisa kumakan, saat ku bereskan rumah, tiba-tiba Hpku berdering, mengejutkanku…:

“ Ya selamat siang ibu..” jawabku, telefon dari salah seorang customerku…

“ Waylat ya kamu musti ambil ke tempat lain ya, aku mau nyebrang nih..cepet ya kesini! Aku tunggu!”

“ Iya bu, saya segera ke sana..makasih bu” jawabku

“ ok” telefon langsung di tutup

Duh, musti cepat-cepat, sedangkan aku tidak pegang uang satu sen pun, aku langsung keluar dari rumah, mengunci pintu dan berdiri di tepi jalan, bingung karena nggak punya uang, apa yang musti ku buat, waktu yang terbatas, keadaan yang terbatas…

“ Ojek dek?” seorang bapak tua dengan wajah yang ramah menawarkan jasa

Ngga tau apa yang sedang terjadi, detik itu aku ngerasa senyum bapak tersebut jadi penghiburan buatku, aku balas senyum tapi ngga bicara apa-apa

“ Mau kemana dek, saya anter…” sergahnya lagi

“ Mau sih pak, tapi tujuan saya jauh banget..” kata-kata itu meluncur aja dari mulutku

“ ya wis, aku antar…, ayo “

“ ehhmm, tapi pak…aduh gimana ya…?” “ Kenapa, pakai harga biasa aja koq….

“ Pak, aku tuh belum pegang uang, bisa anter saya sampai saya dapat uang saya nggak ya?”

Aneh, ngga ada  perubahan di  wajah bapak tadi, dia  senyum aja, masih seperti semula

“Udah, naik aja dulu, yang penting kasih tau kemana tujuannya” “ Sekupang pak, jauhkan?”

“ oh, aman itu..ayo naik!”

Agak ragu, tapi aku naik juga, sembari lihat jam ku, ugh, tinggal 45 menit, musti agak ngebut kayaknya, eh…bapak ini seperti ngerti pikiranku, aku rasain kecepatan motornya bertambah…aku jadi lebih tenang

Ku sempatkan kirim sms bahwa aku sudah dlm perjalanan ke customerku tadi..perjalanan cukup lama, sekitar 20 menit karena jauh jaraknya.

Sepanjang perjalanan aku ngobrol dengan si bapak  tentang pekerjaanku dan keluarganya.

Eh..sebentar, ada sms masuk,kubaca…., aku terkejut sambil melihat posisiku di daerah mana, aku sudah masuk komplek perumahan customerku…, badanku lemas… ya karena isi smsnya bilang bahwa customerku harus berangkat  lebih  awal  beberapa  menit  sehingga  tidak  bisa menungguku..aduh!, kepalaku langsung pusing, itu artinya aku sia-sia menuju rumahnya yang sebegini jauh sementara di kalkulator kepalaku sudah ada angka-angka hitungan berapa harus kubayar si bapak pengemudi ojek.

Hanya beberapa detik sesudah itu aku tiba di depan rumah customerku, aku turun sebentar, bingung, lalu aku sms kembali customerku dan ke beritahu bahwa aku sudah sampai didepan rumahnya, sementara bapak tukang ojek berteduh dibawah pohon, nggak jauh dari tempatku berdiri, aku cuma bisa bilang: ” sebentar ya pak!”, nggak berani cerita tentang apa yang terjadi

BEEP..BEEP.. sms masuk! Ku baca segera, isinya

”kamu coba ketemu temen  saya, dia  kantornya di kota…bla..bla…, dia backup dulu pembayaran ke kamu”, aku baca semua dengan sedikit kehilangan semangat, terbayang dikepalaku jarak kantor teman customerku yang begitu jauhnya, duakali dari waktu tempuhku tadi, sementara di akhir sms itu ada embel-embel

”jangan lewat dari jam 5, orangnya pulang on time!” sementara waktu sudah menunjukan pukul 4.15 sore, duh…ribet nih…

”Ayo pak, kita ke kota, orangnya sudah pergi, saya terpaksa harus ke tempat lain…” aku bergegas, pura-pura tidak memandang wajah si bapak, malu dan nggak enak, tapi aku coba pretending that i am in hurry….mau gimana lagi? Si   bapak   mengiyakan  dengan  sikap   biasa,  maka   bergeraklah  kami, perjalanan yang bikin lelah hati.

Perjalanan kami lanjutkan, hujan mulai turun..gerimis, ah aku nggak peduli…”terus aja pak” jawabku saat si bapak menanyakan apa perlu kita berteduh…

Sekitar setengah jam aku sampai di kota, masih hujan, sesekali aku cek alamat yang ku tuju, yah..bukan wilayah yang ku kenal baik, jadi  pasti makan waktu untuk mencari kantornya..pikirku. kami sempat berputar-putar di komplek perkantoran itu, sesekali aku melirik jam 04.50 , tapi belum juga ku lihat papan nama kantor itu, nyaris putus asa. Aku putuskan untuk masuk ke satu lorong yang cukup sepi, hampir tidak mungkin ada kantor di daerah itu, paling-paling ruko kosong…

Memang lorong itu kelihatan sepi di jalur masuknya, tapi dugaanku ternyata salah..setelah beberapa meter masuk ke dalam..tampak keramaian aktifitas kantoran, nah..itu dia kantornya..aku segera turun dan bergegas memasuki ruang utamanya, sepi…, sekitar 3 menit aku bengang-bengong sendiri sampai seseorang wanita menyapaku dan menanyakan keperluanku.

Ku tanyakan nama yang dikirimkan lewat sms tadi, dia melirik sebentar ke jam tangannya, katanya: ”Biasanya jam segini sih sudah pulang, tapi lampu kantornya  masih  menyala,  sebentar  saya  lihat  dulu  ya”,  ugh  aku  jadi ketar-ketir lagi…

”Masih sholat, kamu tunggu sebentar ya…” wanita itu mendatangiku setelah mengintip sejenak lewat kaca pintu kantornya.

” Iya mbak, makasih” ugh…lega aku..

Aku menunggu sekitar 5 menitan, tak lama aku diminta masuk ke ruangan kantor itu, orang yang harus ku temui ternyata memang sudah bersiap-siap untuk  pulang,  iapun  tidak  terlalu  peduli  dengan  keberadaanku,  agak tergesa-gesa  dia  memproses  pembayaranku  karena  sebentar  lagi jemputannya datang, ah iyalah…dalam hatiku, yang penting dibereskan dulu semua urusanku.

Singkat cerita, aku terima pembayaranku hari itu, aku keluar dari kantor tersebut dengan langkah agak ringan, si bapak tukang ojek langsung menyambutku,

” beres?”tanyanya,

”aman pak” jawabku,

”ayo pak langsung pulang”

Perjalanan  menuju  ke  rumahku terasa  lama,  tapi  penuh  dengan cerita antara aku dan si bapak, banyak hal yang dia tanyakan mengenai pekerjaanku, kesulitan-kesulitannya, sampai akhirnya kami tiba  di  depan rumahku, aku sudah siapkan beberapa lembar uang lima ribuan untuk membayar perjalanan tadi, ku serahkan pada si bapak begitu aku turun dari motornya.

” Pak, ini, terimakasih banyak ya buat semuanya..” aku berusaha tersenyum

” Iya dek, sama-sama…” jawabnya, masih kelihatan senyumnya yang ramah meskipun keadaan sudah agak gelap

” Dek…!” bapak itu memanggilku saat ku melangkah meninggalkan motornya

” Ya pak, ada apa?” aku berpaling sambil menghentikan langkahku, berbalik menghadap dia

” Bapak boleh pesan sedikit buat kamu?” tanyanya, suaranya agak pelan

” Iya pak, silahkan…” kataku

” Dek, bapak Cuma mau bilang, dari semua yang kamu jalani hari ini, dari semua yang kamu ceritakan sepanjang jalan tadi, dan dari semua yang kamu alami dalam hidup kamu, bapak cuma mau mengingatkan kamu satu hal….” dia berhenti bicara..

” Apa itu pak?” tanyaku agak malas karena aku memang capek sekali

” Kamu jangan lupa bersyukur, dek…” tanpa berhenti berbicara bapak itu langsung pergi dengan motornya

Detik itu, saat si bapak mengucapkan kata ’bersyukur”, hatiku tersentak kaget,seluruh badanku tergoncang dan merinding, mataku mendadak berair, saat itulah aku merasakan tamparan yang  dahsyat, saat itu dalam segala pikiranku  yang  berkecamuk,  aku  merasakan  kekerdilanku  selama  ini, kata-kata  itu  dengan  hebatnya  meruntuhkan  seluruh  argumen-argumen hidupku,  membuatku  tidak  berdaya  berhadapan  dengan  kesadaran  akan kesalahan    sikap-sikapku    selama    ini,    merobohkan    dinding    kokoh kesombonganku yang tanpa sadar ku bangun sendiri menjadi sebuah keyakinan yang tak terkalahkan oleh apapun. Detik itu, aku merasa seperti sebuah balon yang ditusuk jarum, perlahan-lahan menciut.Detik itu, aku kalah total, badanku gemetar, saat kupandangi sekelilingku, kusadari bapak tadi sudah menghilang dari pandangan, sambil menahan air mata aku bergumam perlahan..malaikatku…

Detik itu aku sadari Tuhan telah menyentuhku dengan cara yang sangat sederhana, tetapi dengan kekuatan yang maha dahsyat, dengan airmata yang tertahan  ku  masuki  rumahku, ku  buka  kitab suciku, dan kubaca, tanpa memilih halaman atau apa, kubaca apa yang ada didepanku, dan airmataku mengalir semakin deras karena ayat yang kubaca adalah ayat yang selama satu bulan terakhir masuk melalui sms di hpku, dikirim oleh 3 orang yang berbeda dan tidak saling kenal dan tidak pernah ku pedulikan, dan ayat-ayat itu hanya bicara tentang berdoa dan bersyukur…itu saja.

Saat itu,sadarlah aku bahwa Tuhan sudah berkali-kali menyentuhku dengan banyak cara, aku yang tidak pernah merasakanNya, aku yang terlalu menutup diriku terhadap sentuhan-sentuhanNya, karena kekakuan hidup yang kuyakini selama ini, Dia tidak pernah meninggalkanku selama ini, Dia selalu bersamaku, bahkan beberapa  jam  terakhir  tadi, Dia  menemaniku dalam semua kesusahanku lewat senyum ramah seorang tukang ojek, lewat kesabarannya menunggui aku dan lewat pesan sederhananya yang akhirnya membuka mata hatiku, barulah aku sadar bahwa semua yang terjadi hari ini, dan hari-hari sebelumnya yang sudah kulalui, Dia selalu ada disana untukku, Dia menyentuhku dengan caraNya yang tidak pernah aku duga…

Tuhanku, ampuni aku karena lupa padaMU Ampuni aku karena kesombonganku

yang tanpa sadar kubangun menjadi dinding keangkuhanku

Yang kubiarkan menyelubungiku dari hembusan angin sejukMU

Yang kubiarkan menjadi keyakinan dan alat untuk memegahkan diriku sendiri

Tuhanku

Ampuni aku yang telah terlalu banyak memohon dengan caraku sendiri

Dengan harapan dan keinginanku sendiri

Dengan ukuran kecukupanku sendiri

Ampuni aku Tuhan, karena lupa bersyukur kepadaMU

Tags: the way he touch me

21 Comments    Chronological      Reverse     Threaded

delcoedison wrote on Nov 2, ’07: dasyat……………….

askwhy wrote on Nov 2, ’07: Dia memang dahsyat….

delcoedison wrote on Nov 3, ’07: u write a touching story buk!!!!!!!!!!!!

askwhy wrote on Nov 3, ’07 i don’t mean it, it just flow

dewispace wrote on Nov 7, ’07: Hmmm….keluarbiasaan yang ggrgrgrggrgrgrr…hmmmmmmmmmmmmmmm move on buk!

atiep wrote on Nov 16, ’07: TUHAN tidak pernah akan meninggalkan umat-Nya, berapapun besarnya dosa umatNya DIA akan selalu ada bersama kita.

bursabaju wrote on Dec 14, ’07: Well, even when life slows me down and seems like hope is not around, i always depend on him to give me guidance.Its hard to bow down sometimes but it worth to try..good luck sis…

askwhy wrote on Dec 27, ’07:thankyou….

srisariningdiyah wrote on Dec 27, ’07:thx for sharing ya🙂, bagus ceritanya…………..

askwhy wrote on Dec 28, ’07 : makasih mbak ya

517via wrote on Jan 6, ’08: meski kadang aku jg heran dg keputusan yg pernah Why ambil ( 2 taon lalu), namun aku yakin Tuhan selalu mendampingi umatNya dengan smua jalan yang kita ambil dengan kesungguhan & kemantapan hati.U R realy a ‘Strong Person’ ! dan… rejeki besar juga ngga lari kemana muski bukan dr sebuah perusahaan buesar.., yg penting memang kita memang senantiasa bersyukur. U will C friend!

mariariri wrote on Mar 29, ’08: luar biasa..Tuhan selalu ada dimana-mana dan bisa berkarya kapan saja lewat cara-cara yang ga dpt qta duga. aku sampe merinding dengan ketulusan dan kebijakan bpk ojek tadi. dan aku, ngerasa beruntung bisa baca sharing ini. thx y……………….

askwhy wrote on Mar 29, ’08: you right mbak, Dia ada dimana-mana…

pujasumarta wrote on Mar 29, ’08:Aduuuuh saya keliru ya! Maaf sekali, mbak “askwhy’! Membaca kisahmu tersebut, saya kok teringat kisah perjalanan dua murid ke Emaus. Ditemani Yesus dalam perjalanan, namun Ia tidak dikenali. Dan setelah mereka mengenal-Nya dalam caranya memecah roti, lenyaplah Yesus dari hadapan mereka. Hebat kamu! Salam doa, n Berkah Dalem,

askwhy wrote on Mar 29, ’08: Romo, aku gak apa-apa koq, aku juga masih belajar untuk mendekatkan diri padaNya, sudah saatnya aku harus memulai merubah diri, terimakasih Romo menyempatkan baca ini, semoga kia semua bisa belajar dari semua kejadian dalam hidup kita ya mo (aduh..koq hati ini jadi teduh ya setelah bisa mengucapkan kata ‘Romo’ lagi..it’s been a while aku kehilangan waktu-waktu untuk bisa bicara dan mengucapkan panggilan itu…rindu yang mendalam dan sekarang terobati)…terimakasih ya romo, being there for me, for us…

pujasumarta wrote on Mar 29, ’08:Wahyou, selamat pagi! Kok romantis banget kamu. Seperti dulu Maria Magdalena dan Yesus. “Maria” – “Rabuni!” He he! Minggu ini Minggu Ke II Paskah, juga Minggu Kerahiman Ilahi. Mau ikut misa di gereja mana? Have a nice Sunday! Salam doa, n Berkah Dalem,

askwhy wrote on Mar 30, ’08 : hiks..romantis….sesekali boleh kan

pujasumarta wrote on Mar 30, ’08: Iya, iya! Boleh-boleh! Besok kerja? Di mana? Salam doa, n Berkah Dalem,

askwhy wrote on Mar 30, ’08:aku ini pengangguran koq,Romo…hehehe, besok belum ada pekerjaan

malachinovel wrote on Mar 1: makasih yah Jeunk sudah sharing memang kayaknya gw kurang banget bersyukur even berdoa pun sudah tidak pernah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s